Beberapa bulan yang lalu, iming-imingnya adalah seindah "Santai aja,
Norwegisch ist wie Deutsch ohne Grammatik" (Bahasa Norwegian mirip dengan bahasa Jerman tanpa tata bahasa). Memang janji yang menggiurkan bukan?
Tapi setelah beberapa hari ini membolak-balik buku Langenscheidt itu (yang belum apa-apa - tentu karena kurang populer - harganya jauh lebih melangit ketimbang pelajaran bahasa Perancis atau Spanyol), impian yang semanis madu itupun berpotensial berubah menjadi sedikit pahit. Memang betul bahwa dari kosa kata, cukup mudah melompat dari bahasa Jerman ke bahasa Norwegia ataupun bahasa Skandinavia lainnya. Tinggal berhati-hati saja terhadap
false friends dan kasus sejenis lainnya (awas:
sau ternyata artinya
domba). Tapi,
ohne Grammatik? Von wegen! Sepertinya malah tata bahasanya nggak dijamin lebih mudah dari bahasa Jerman.
Plus, masih ada persoalan lagi dengan pengucapan dan intonasinya. Banyak konsonan yang "mati" (tidak bunyi, seperti lazim di bahasa Perancis) yang gampang membuat kepusingan saat mencocokkan antara percakapan dan teksnya. Ini berarti ada tantangan besar untuk mudah memahami
stand-up comedy (itupun kalau ada). Pola pengucapannya masih belum familiar. Cara mengetik tiga aksara baru æ, ø, dan å di keyboard layout DE juga belum ketemu. Terakhir, karena seringkali arti kata
bisa berbeda (jauh)
kalau intonasinya lain, ini berarti nggak lagi bisa sembarangan berucap tanpa irama.
Ya kita lihat saja nanti.
Such a bloody challenge. Mudah-mudahan nggak lagi berakhir seperti hasil belajar bahasa Itali: hanya sampai mengerti urusan memesan makanan dan minuman